Today's Headline

Subscribe Here!

Islam Itu Indah

Islam Itu Indah

Raya

Mempertahankan Dinasti di Indramayu Jadi Target Utama

On 1/03/2018


Daniel Muttaqien, Nama Yang Sengaja Dimunculkan Tapi Tidak Untuk Dipilih
Tentu kita masih ingat Pilgub Jawa Barat pada tahun 2013 lalu, dimana Partai Golkar megusung Irianto M Syaifiuddin (Yance) yang berpasangan dengan Tatang Farhanul Hakim. Yance yang pada waktu tersebut merupakan Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, dan Tatang adalah Bupati Tasikmalaya periode 2001-2011.
Secara geografis, komposisi tersebut dipandang duet yang sangat ideal. Keduanya dianggap tokoh besar dari wilayah Pantura dan Priangan timur Jawa Barat. Keterkenalannya dan prestasinya dalam menangani Indramayau dan Tasikmalaya tidak perlu diragukan lagi. Sejumlah penghargaan dari berbagai pihak diklaim sebagai bukti keberhasilan mereka.
Ketika memutuskan untuk maju menjadi Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Jawa Barat, pasangan tersebut diharapkan bisa berbuat banyak untuk memenangkan Pilgub Jabar, ternyata TIDAK! 
Kartu mati dari Pasangan tersebut berada pada Yance sendiri. Golkar terlalu berani mengusung Yance menjadi Calon Gubernur walaupun elektabilitas kecil serta tersangkut kasus korupsi.
Dikutif dari media beita satu.com terbitan Sabtu, 20 Oktober 2012, saat menjabat Bupati Indramayu, Yance, tersangkut kasus korupsi proyek PLTU 1 Indramayu, Jawa Barat. Kasus ini menyangkut dugaan penyelewengan dana dalam pembebasan lahan  untuk proyek 2004. Lahan tersebut seluas 82 hektar di Desa Sumur  Adem, Kecamatan Sukra.
Panitia pembebasan lahan ternyata diduga menggelembungkan nilai harga jual dari Rp22 ribu per m2 menjadi Rp42 ribu per m2. Akibatnya, negara diduga mengalami kerugian sebesar Rp42 miliar.
Saat penghitungan suara pada waktu tersebut, benar saja Pasangan ini tidak mampu berbuat banyak. Yance-Tatang berada berada di posisi ke-empat dari lima calon yang ada.
Informasi yang beredar dari tim pemenangan Yance maupun Kader Golkar, factor utama yang membuat yance harus menelan kekalahan adalah karena tersangkut Korupsi.
Mengenal Putra Mahkota Daniel Muttaqien.
Daniel Mutaqien merupakan "putra mahkota",  anak kandung pasangan Yance dengan Anna Sophanah. Anna sendiri saat ini menjabat sebagai Bupati Indramayu, jabatan yang seolah "turun" dari Yance, suaminya yang sebelumnya berkuasa selama sepuluh tahun.
Karir Politik Daniel Muttaqien memang merupakan hasil karbitan sang ayah sendiri. Sebelum menjabat sebagai anggota DPR RI, Daniel pernah menjabat sebagai  Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat periode 2009-2014.
Sebagai anak pembesar dan tokoh Indramayu, Kariri Politik Daniel berjalan mulus-mulus saja, karena tidak melewati fase proses yang kuat. Mungkin saja sejak lahir sampai saat ini, kemudahan dan kemewahan tidak lepas dari Daniel Muttaqien.
Saat menjabat Anggota DPRD Jawa Barat sampai dengan DPRI RI seperti saat ini, tidak ada prestasi mentereng yang di dapat oleh Daniel Muttaqien. Sebagai penyerap aspirasi, Wilayah Indramayu yang merupakan wilayah dapil pemilihannya lebih condong di tinggalkan.
Masyarakat Indramayu pun menginginkan perubahan yang nyata dari dinasti Politik yang saat ini berjalan. Karena dinasti tidak bisa memberikan perubahan yang nyata bagi kalangan masyarakat disekitar Indramayu.
Antara Yance dan Daniel Muttaqien.
Pepatah 'perilaku anak mencerminkan bapak' memang benar adanya. Perilaku negatif yang diturunkan sang bapak akan membekas pada anak sangat terjadi.
Saat Yance terkena kasus Korupsi menjelang Pilgub Jabar 2013 ada kesamaan dengan Daniel yang sudah di usung Golkar untuk menjadi Calon wakil Gubernur Jawa Barat mendampingi Ridwan Kamil.
Dikutif dari media online Berita Satu.com terbitan Selasa, 14 November 2017 Mantan Panitera Pengganti Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut) Rohadi mengaku memberikan gratifikasi berupa mobil Mitsubishi Pajero Sport bernomor polisi B 104 ANA kepada Bupati Indramayu Anna Sophanah.
Hal itu diakui Rohadi seusai diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka kasus dugaan gratifikasi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) di Jakarta.
Sedangkan mengutif okezone Selasa 14 November 2017 menyebutkan, Serah terima mobil dugaan hasil gratifikasi tersebut terjadi di sebuah rumah makan di daerah Jakarta Pusat. Pada saat itu, Rohadi sempat menitipkan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) mobil itu ke anak Anna Sopiah, Daniel Muttaqien.
"Mengenai STNK-nya itu diterima oleh saudara Daniel Muttaqien di Rumah Makan Sate Senayan Kebon Sirih," jelas Rohandi
Mobil dugaan Gratifikasi milik Anna tersebut telah disita oleh penyidik KPK sebagi barang bukti yang nantinya akan memperkuat konstruksi perkara Eks Panitera Pengganti Jakarta Utara itu.
"(Mobilnya) sudah disita (KPK). Percayakan sama KPK (untuk mengusutnya)," kata Rohandi.
Memang belum ada keterangan Daniel terlibat kasus tersebut, tetapi dengan menerima mobil Pajero yang saat ini di sita oleh KPK jelas menjadi tanta banya besar bagi masyarakat.
Melihat dinamika tersebut, harusnya Partai Golkar mulai belajar kembali untuk menentukan pilihan di Pilgub Jabar 2018. Karena, dengan mengusung Daniel Muttaqien, sama saja dengan mengulangi kekalahan di Pilgub jabar tahun lalu.
Apalagi, desas-desus yang beredar saat ini, Ridwan Kamil belum tentu akan mengusungnya sebagai calon wakil Gubernur walaupun telah di rekomendasikan oleh Golkar, dan partai Koalisi lainnyapun seperti PPP dan PKB menolak keras Daniel karena dianggap kartu Mati.
Duet Semu Ridwan Kamil-Daniel Muttaqien
Duet antara Ridwan Kamil dan Daniel Muttaqien di Pilgub Jabar tahun 2018 mendatang kalau terealisasi, bisa jadi di katakan duet yang berani dan penuh resiko.
Bagaimana tidak, Daniel tidak memiliki pengalaman yang kuat untuk menjadi figur pemimpin propinsi yang berpenduduk paling banyak di Indonesia. Dengan segala Hormat saya bisa katakana kalau Daniel merupakan politisi yang masih ingusan dan bau kencur.
Kemungkinan terbesar dalam analisa saya, Ridwan Kamil akan memilih Uu Ruzhanul ulum untuk menjadi pasangannya. Sedangkan Daniel sepertinya didesain oleh Ridwan Kamil sebagai sebuah nama yang sengaja dimunculkan tapi tidak untuk dipilih. Siasat lama yang sering berulang dalam realitas politik paling primitif yang kerap terjadi dalam sistem demokrasi yang tidak berjalan normal..
Sepertinya, situasi tersebut juga dipahami dengan baik oleh Daniel. Kemunculan namanya dijadikan peluang untuk memunculkan dirinya dalam pentas politik praktis di Jawa Barat. Kondisi itu sepertinya jadi target antara dari obsesi politiknya, dengan tujuan paling rendah adalah menjadi Bupati Indramayu. Bila tetap bisa bertahan sebagai calon Wagub Jabar itu semata-mata hanya bonus politik dari eksperimen Daniel.
Dengan kata lain, Daniel melakukan penawaran politik tertinggi tapi dengan harapan memperoleh target minimal, yakni melanggengkan dinasti politik keluarganya dalam panggung kekuasaan di Indramayu.
Dan Akhirnya Daniel Muttaqien Terancam gagal jadi Cawagub  Ridwal Kamil karena Partai golkar mencabut dukungan untuk ridwan kamil dan memilih mengusung Dedi Mulyadi maju ke Pilgub jawa barat.mungkin nasib kandasnya Daniel ke bursa cawagub jawa barat mengulangi torehan/nasib orang tuanya yaitu yance yang dulu juga pernah gagal di rangkul menjadi cawagub dari Cagub Dani Setiawan pada pemilu 2008 yang lalu.







x

Dengan spanduk yang sudah berjejer di sepanjang jalur pantura dan di tiap tiap depan balidesa di kabupaten indramayu yang menelan dana yang tidak sedikit,tentu dengan gagalnya Daniel menjadi cawagub dari ridwan kamil masih bisa di bilang menguntungkan.

Sebab secara tidak langsung Daniel telah mengenalkan dirinya melaui poster poster yang terpampang di kabupaten indramayu dengan target MAJU MENJADI KANDIDAT  calon bupati indramayu kelak, meneruskan jabatan ayahnya yance yang menjabat 10 tahun,ibunya anna sophanah 10 tahun  dan berlanjut ke anak cucunya.

Dengan bermodal janji meneruskan pembangunan dan janji janji manis lain seperti PEMEKARAN INDRAMAYU BARAT mungkin akan di goreng lagi seperti pemilu kemarin yang di menangkan oleh ibunya,anna sophanah. ( sadim surono )

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »